
A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an adalah kitab Allah yang diturunkan ke dunia yang harus
diyakini oleh setiap orang mukmin. Beriman kepada kitab Allah adalah salah
satu rukun iman yang ke tiga. Beriman kepada al-Qur’an harus dibuktikan
dengan mempelajarinya dan mengajarkannya kepada orang lain. Mempelajari
al-Qur’an adalah kunci sukses hidup dunia dan akhirat. (Khalid Abdul Karim
Allaahim, 2004: 5 ). Dengan mempelajari al-Qur’an maka seseorang akan
mempunyai banyak pengetahuan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang
lain.
Mempelajari al-Qur’an berarti belajar membunyikan huruf-hurufnya
dan menulisnya. Tentunya tingkatan ini adalah tingkatan yang paling awal dan
sangat menentukan keberhasilan pembelajaran al-Qur’an pada tingkatan
selanjutnya. Pada tingkatan lanjutan mungkin seseorang bisa mempelajari
Ulumul Qur’an dan tafsir al-Qur’an. Namun untuk menuju kepada tingkatan
ini seseorang harus menempuh tingkatan awal yaitu membaca dan menulis
al-Qur’an. Al-Ghazali berkata,” hendaklah seorang murid tidak mempelajari
sebuah cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu sebelumnya. ( Said
Hawwa, 1999: 18 ).
Diantara tugas yang memerlukan keseriusan yang sangat dan
kepedulian yang ekstra dari setiap pendidik adalah tugas mencari metode
terbaik untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak- anak, sebab mengajarkan
1
Al-Qur’an ( kepada mereka ) merupakan salah satu pokok dalam ajaran Islam.
Tujuannya adalah agar mereka tumbuh sesuai dengan fitrahnya dan hati
mereka pun bisa dikuasai cahaya hikmah, sebelum dikuasai hawa nafsu
dengan berbagai nodanya yang terbentuk melalui kemaksiatan dan kesesatan.
Para sahabat telah mengetahui urgensi memelihara Al-Qur’an dan
pengaruh yang akan ditimbulkan dalam jiwa anak- anak. Oleh karena itulah
semoga Allah meridhoinya - mereka mengajarkan Al-Qur’an kepada anakanaknya
sesuai dengan anjuran Nabi.
Diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash, dari ayahnya,
dia berkata: “Rasulullah bersabda:
Orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang mempelajari
Al-Qur’an dan mengajarkannya” ( HR. Ahmad ). ( Sa’d Riyad, 2007: 14 )
Berdasarkan hal itu, mengajarkan Al-Qur’an dapat memberikan sifatsifat
yang terpuji kepada manusia, apalagi jika pengajaran dan pendidikan ini
dikhususkan kepada keluarga. Pada saat yang sama, jika pengajaran Al–
Qur’an ini terlaksana dengan baik, maka anak- anak pun akan dapat mencintai
Al-Qur’an.
Dengan demikian, pengajaran yang sesuai dengan dasar-dasar yang
benar, akan membuat anak- anak mencintai Al-Qur’an, sekaligus memperkuat
iangatan dan pemahaman mereka. ( Sa’d Riyad, 2007:14 ).
SMP Islam Terpadu Darul Fikri Bawen adalah sebuah lembaga
pendidikan yang menargetkan pada tiap siswanya untuk bisa membaca dan
SMP Islam Terpadu Darul Fikri Bawen adalah sebuah lembaga pendidikan
yang menargetkan pada tiap siswanya untuk bisa membaca dan menulis Al-
Qur’an menjadi pelajaran yang wajib ditempuh oleh setiap siswa SMP Islam
Terpadu Darul Fikri.
Dalam perjalanannya teryata pembelajaran baca tulis Al-Qur’an
menghadapi problem yang tidak sedikit dan sederhana. Diantara problem yang
dihadapi adalah input siswa beragam, jumlah jam pelajaran, guru, sarana, dan
metode pembelajaran baca tulis Al-Qur’an yang terbatas. Mengenai input
siswa yang beragam tersebut, bahwasannya ada diantara siswa yang baru yang
sudah lancar dalam membaca Al-Qur’an, ada yang belum lancar, dan ada yang
buta terhadap huruf Al-Qur’an. Heteogenitas siswa ini menjadi problem ketika
mereka berkumpul dalam satu kelas. Problem yang dihadapi guru baca tulis
Al-Qur’an tak lain adalah dalam menentukan metode dan pendekatan sehingga
para siswa mampu meraih target yang dicanangkan pihak kurikulum. Sarana
prasarana yang menunjang pembelajaran baca tulis Al-Qur’an pun belum
terpenuhi, diantaranya buku prestasi, buku pedoman pembelajaran, alat-alat
peraga dan lain- lain sehingga pembelajaran sangatlah sederhana dan
tradisional yang pada akhirnya proses belajar mengajar berjalan sangat lambat.
Walaupun belum menemukan metode dan pendekatan tany sesuai,
sarana prasarana yang sederhana guru mata pelajaran baca tulis Al-Qur’an
tetap melaksanakan kegiatan mengajarnya dengan metode dan pendekatan
yang pernah mengantarkannya bisa membaca dan menulis Al-Qur’an.
Setelah pembelajaran yang dilakukan selama satu tahun didapatkan
hasil belajar yang kurang memuaskan. Diantara hal yang kurang memuaskan
adalah masih banyak ditemui kesalahan siswa dalam membaca Al-Qur’an,
misalnya ada beberapa siswa yang masih terbata-bata, belum mampu
mempraktekkan bacaan mad dengan benar yaitu terkadang bacaan mad tidak
dibaca panjang dan yang seharusnya pendek malah dibaca panjang. Siswa juga
masih banyak melakukan kesalahan dalam membaca hukum bacaan yang
dibaca dengung dan yang tidak dibaca dengung. Dalam hal menulis hurufhuruf
Al-Qur’an, siswa masih terlalu lambat dan salah dalam menentukan
huruf yang harus ditulis ketika didekte oleh guru. Ini disebabkan mereka
belum hafal terhadap cara menulis huruf-huruf arab terutama menentukan
huruf yang bisa disambung dari depan dan belakang dan huruf yang hanya
bisa disambung dari depan saja. Begitu juga siswa belum bisa
membedakan antara huruf dan kata, sehingga ketika siswa diminta menulis
sebuah surat pendek, banyak melakukan kesalahan dalam menyambung
huruf yang menyusun tiap kata dalam ayat-ayat al-Quran. Hal inilah yang
mendorong penulis untuk melakukan penelitian lebih jauh tentang
problematika pembelajaran baca tulis Al-Qur’an dan solusinya pada kelas
permulaan SMP Islam Terpadu Darul Fikri Bawen dengan tujuan peneliti
mengetahui problem yang menghambat tercapainya tujuan pembelajaran baca
tulis Al-Qur’an di SMP IT Darul Fikri Bawen, serta memberkan sedikit
sumbangan ilmu pengetahuan yang dengannya diharapkan SMP IT Darul
Fikri bisa menemukan solusi yang lebih tepat guna meraih tujuan
pembelajaran baca tulis Al-Qur’an.
http://search.aol.com/aol/image?v_t=tb50-ff-winamp-ab-en-us&q=al+quran&s_it=searchtabs&page=2&oreq=f88b2107962c41429038e9718021a76a&count_override=20